Surabaya, 12 Januari 2026 — Suasana di SMK Tri Tunggal Surabya nampak berbeda dari biasanya. Alih-alih dipenuhi dengan kegiatan pembelajaran atau diskusi di dalam kelas, seluruh area sekolah disulap menjadi tempat pemungutan suara (TPS) yang semarak. Hari ini, sekolah bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan laboratorium demokrasi dalam gelaran Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos) masa bakti 2025/2026
.
Mengadopsi Sistem Pemilu Nasional
Untuk memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi para siswa, pihak kesiswaan memutuskan untuk mengadopsi penuh format Pemilihan Umum (Pemilu) yang ada di Indonesia. Mulai dari pembentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Siswa, penetapan daftar pemilih tetap (DPT), hingga kampanye terbuka yang penuh semangat.
"Kami ingin siswa tidak hanya tahu teori tentang demokrasi dari buku kewarganegaraan, tapi merasakannya langsung. Bagaimana proses birokrasinya, bagaimana menjaga sportivitas, hingga cara memberikan suara yang sah," ujar bapak Drs. Subari, selaku Kepala Sekolah
.
Tahapan yang Ketat dan Transparan
Layaknya Pemilu sesungguhnya, proses ini melalui beberapa tahapan krusial:
- Pendaftaran & Seleksi: Calon tidak hanya mendaftar, tapi juga menjalani uji kompetensi dan kelayakan.
- Debat Terbuka: Para pasangan calon (Paslon) beradu argumen, memaparkan visi-misi, dan menjawab pertanyaan tajam dari panelis maupun audiens.
- Masa Kampanye: Pemanfaatan atribut kreatif mulai dari poster digital hingga orasi langsung.
- Pemungutan Suara: Menggunakan bilik suara, surat suara resmi, dan tinta sebagai bukti telah berpartisipasi.
Bukan Sekadar Memilih Pemimpin
Kegiatan ini memiliki makna lebih dalam dari sekadar menentukan siapa yang akan memimpin organisasi siswa. Ini adalah simulasi pendidikan politik untuk mencetak warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab.
Para siswa belajar tentang Luber Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil). Bagi siswa kelas XII yang sebentar lagi akan menjadi pemilih pemula di tingkat nasional, kegiatan ini merupakan "pemanasan" yang sangat berharga.
Harapan untuk Pemimpin Baru
Setelah melalui proses penghitungan suara yang dramatis, terpilihlah pasangan Nurul Aprilia Manu dan Ahmad Haikal sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIS yang baru. Namun, esensi dari kegiatan ini bukan hanya soal siapa yang menang, melainkan bagaimana seluruh warga sekolah—baik guru maupun siswa—bersatu mendukung kemajuan sekolah pasca-kontestasi.
Dengan berakhirnya "Pesta Rakyat" sekolah ini, diharapkan semangat demokrasi tetap tumbuh subur di koridor-koridor SMK, membawa perubahan positif, dan melahirkan calon-calon pemimpin bangsa di masa depan.